Pria Berbagi Info “Anak Terengganu yang Hilang 130 Tahun”
Malaysia memang terkenal sebagai salah satu negara yang kaya akan kekayaan alamnya, menyimpan berbagai ‘permata hijau’ yang tak ternilai harganya.
Ada yang semakin sulit ditemukan, dan ada pula yang diperkirakan telah hilang selamanya.
Begitulah nasib Asam Batu Rajah atau Begonia rajah, sejenis tanaman endemik Terengganu yang ‘hilang’ selama lebih dari 130 tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali.
Yang lebih menyedihkan, setelah penemuan bersejarah tersebut, spesies tersebut kini kembali menghadapi ancaman kepunahan.
Hal tersebut dibagikan pria melalui akun Anak Umi Suka Hutan yang mengajak masyarakat, khususnya masyarakat asli Terengganu, untuk mengapresiasi kekayaan unik yang menjadi identitas negara.
Antara Begonia tercantik di dunia, tetapi kisahnya sangat tragis
Menurut pihak kemitraan, ara Begonia bukanlah tanaman biasa.
Dikenal sebagai salah satu spesies Begonia terindah di dunia, bahkan banyak dicari oleh para pecinta dan kolektor tanaman dari berbagai negara.
Keistimewaan tanaman ini terlihat jelas pada corak daunnya yang unik dan urat daun berwarna hijau cerah yang menonjol.
Selain itu, bagian bawah daunnya berwarna tembaga kemerahan sehingga cukup mempesona.
Bentuk daunnya juga tidak simetris sehingga membuat spesies ini memiliki ciri khas tersendiri yang sulit ditemukan pada tumbuhan lain.
‘Hilang’ lebih dari 130 tahun sebelum ditemukan kembali
Yang membuat kisah ara Begonia semakin istimewa adalah sejarahnya.
Spesies ini pertama kali tercatat pada tahun 1892. Namun, setelah spesimen aslinya diambil untuk tujuan penelitian, habitat aslinya gagal ditemukan kembali selama lebih dari satu abad.
Pada kurun waktu tersebut, berbagai lembaga penelitian dan ahli botani mencoba menelusuri lokasi asli tanaman tersebut, namun usahanya tidak berhasil.
Meski fig Begonia masih bisa dibeli di pasar internasional, namun tanaman yang dijual sebenarnya hanyalah reproduksi atau klon dari spesimen asli yang dikumpulkan lebih dari 130 tahun lalu.
Habitat aslinya masih menjadi misteri.
Sebuah penemuan yang mengubah sejarah, tapi…
Segalanya berubah ketika dua pecinta alam, Husni dan Jaz, menemukan kembali raja Begonia saat menjelajahi hutan di Terengganu.
Penemuan tersebut mengakhiri misteri hilangnya spesies tersebut setelah lebih dari 130 tahun.
Menurut Anak Umi Suka Hutan, penemuan tersebut juga membuktikan betapa pentingnya peran citizen scientist dalam membantu penelitian keanekaragaman hayati tanah air.
Ketika mereka menyadari tanaman tersebut memiliki nilai ilmiah yang tinggi, penemuan tersebut dirujuk ke para ahli sebelum dipastikan sebagai buah ara Begonia.
Habitat ditemukan, namun ‘dihancurkan’
Yang miris, habitat yang ditemukan bukan di kawasan hutan lindung atau kawasan lindung.
Sebaliknya, populasi Begonia rajah liar berada di area taman yang sedang dibuka dan diyakini menggunakan racun.
Keadaan tersebut menyebabkan tanaman tersebut terancam punah lagi dari habitat aslinya.
Berdasarkan kemitraan, kini hanya tersisa beberapa pohon di lokasi tersebut.
Guna memastikan spesies tersebut terus tercatat, beberapa spesimen akan dikumpulkan dan dikirim ke Universiti Malaysia Terengganu (UMT) untuk dijadikan herbarium sebagai catatan ilmiah bahwa kawasan tersebut pernah menjadi habitat asli buah ara Begonia.
“Kalau ada semangat Terengganu, ini dia…”
Dalam kemitraan itu pula, Anak Umi Suka Hutan mengajak masyarakat khususnya masyarakat Terengganu untuk bersama-sama mempertahankan harta karun yang menjadi identitas negaranya.
Dikatakannya, Begonia rajah bukan sekedar tanaman hias yang indah, namun merupakan warisan keanekaragaman hayati yang tidak dapat tergantikan jika punah.
“Kalau punya semangat Terengganu, ini dia. Asli Terengganu. Ini identitas kalian. Anak-anak Terengganu harus bangun,” ujarnya.
Ia juga meminta agar habitat asli Begonia raja dikukuhkan dan dilestarikan sebelum terlambat.
Jika upaya konservasi saat ini gagal, bukan tidak mungkin spesies yang ditemukan kembali setelah lebih dari satu abad akan punah lagi, kali ini mungkin selamanya.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.