Benarkah Doa Rabithah Bid’ah? – Syariah Online DepokSyariah Online Depok

– Doa adalah bagian dari zikir, tetapi zikir tidak selalu isinya doa

– Zikir dan Doa ada dua macam: Ma’tsur (dari Al Quran dan As Sunnah), dan Ghairul Ma’tsur (susunan manusia, selain Al Quran dan As Sunnah).

– Doa Rabithah termasuk Ghairul Ma’tsur, kalimatnya disusun oleh Imam Hasan Al Banna

– Menyusun doa dan dzikir sendiri sesuai keinginan manusia sudah dilakukan sejak zaman Salaf dan Khalaf

– Sehingga itu adalah boleh dan sah menurut mayoritas ulama, selama isinya tidak ada yang melanggar syariat dan tidak dianggap sunnah nabi saat mengamalkannya.

Beberapa contoh dzikir dan doa sahabat :

Dari Rifa’ah bin Rafi’ al-Zarqi, dia berkata: Suatu hari kami sedang shalat di belakang Nabi Muhammad SAW, dan ketika dia mengangkat kepalanya dari rakaat, dia berkata: “Tuhan mendengar siapa pun.” Dia memujinya. Seorang laki-laki di belakangnya berkata, “Ya Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji, puji yang sangat baik dan penuh berkah.” Ketika dia pergi, dia berkata, “Siapa pembicaranya?” Dia berkata, “Saya.” Dia berkata, “Saya melihat beberapa.” Dan sudah tiga puluh malaikat yang menuliskannya, siapa di antara mereka yang akan menuliskannya terlebih dahulu.

Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi berkata,

“Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika beliau mengangkat kepala dari rukuk beliau berkata: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang-orang yang memuji-Nya)’. Lalu ada seorang laki-laki yang berada di belakangnya sedang membaca;

‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) ‘.”

Selesai shalat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?”

Pria itu menjawab, “Saya.”

Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut.”

(HR.Bukhari no.799)

Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat nabi menciptakan dzikirnya sendiri dalam shalat, dan Nabi ﷺ menyetujuinya. Istilahnya sunnah taqririyah.

Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

Beliau menjadikannya dalil kebolehan berdzikir dalam shalat yang tidak diriwayatkan selama tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan, dan diperbolehkan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya.

Hadits ini menjadi bukti bahwa MUNGKIN menciptakan dzikir yang tidak sah dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir sah, dan menunjukkan kemampuan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)

Imam Ibnu ‘Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

Dalam memuji Rasulullah, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian, atas tindakan orang ini dan karena memperkenalkannya kepada orang-orang berdasarkan kata-katanya dan keutamaan dari apa yang dia lakukan dengan meninggikan suaranya dalam ingatan itu, dia menjelaskan bukti bahwa hal ini diperbolehkan.

Pujian Rasulullah ﷺ atas apa yang dilakukan manusia dan masyarakat mengetahui pentingnya perkataannya dan pentingnya apa yang dilakukannya dalam bentuk meninggikan suara dzikirnya, telah menjadi indikasi bahwa hal tersebut memang mungkin. (At Tamhid, 16/198)

Contoh lain, doanya Umar bin Khathab:

Atas wewenang Omar, semoga Tuhan meridhoi dia, katanya
Ya Tuhan, berilah aku syahid di jalan-Mu dan jadikan kematianku di negeri Utusan-Mu, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian.

Dari Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

“Ya Allah, rezekilah aku mati syahid di jalan-Mu, dan matikanlah aku di negeri Rasul-Mu.”

(HR. Bukhari no. 1890)

Dalam cerita lain:

Mansur berkata: Aku bertanya kepada Mujahid dan berkata: Pernahkah kamu melihat doa salah satu dari kami yang mengatakan: Ya Tuhan, jika namaku termasuk orang-orang yang bahagia, maka sahkanlah namaku di antara mereka, dan jika namaku termasuk di antara orang-orang yang sengsara, hapuslah dari mereka dan letakkan di antara orang-orang yang bahagia. Dia berkata: Hassan.

Manshur berkata: aku bertanya kepada Mujahid: Apa pendapatmu dengan doa salah satu di antara kami:

“Ya Allah, jika namaku ada pada orang-orang yang berbahagia, maka taruhlah pada mereka, jika pada orang-orang yang sengsara, maka hapuslah, dan jadikanlah pada orang-orang yang berbahagia.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/469)

Malik bin Dinar berdoa:

Malik bin Dinar berkata tentang wanita yang didoakannya: Ya Tuhan, jika dalam kandungannya ada seorang budak, gantikan dia dengan anak laki-laki, karena Engkau menghapus apa pun yang Engkau kehendaki. Dan bersabarlah, dan bersamamu ada Bunda Kitab

Malik bin Dinar mendoakan ibu hamil; “Ya Allah jika diperutnya adalah bayi perempuan, gantilah menjadi bayi laki-laki, karena Engkau maha menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkannya, dan di sisiMulah Ummul Kitab.” (Tafsir Al Qurthubi, 9/330)

Contoh lain dari Salaf:

Imam An Nawawi berkata:

Sebagian ulama terdahulu biasa mendatangi gurunya dan bersedekah dan berkata, “Ya Allah, sembunyikan kesalahan guruku dariku dan jangan ambil nikmat ilmunya dariku.”

Sebagian ulama terdahulu, jika mendatangi gurunya, mereka akan bersedekah dan berdoa: “Ya Allah, tutupi aib guruku dariku dan jangan ambil nikmat ilmunya dariku.”

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Jilid. 1, Hal. 157-158)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata:

Saya telah berdoa kepada Al-Syafi’i selama empat puluh tahun dalam doa saya

“Dalam doaku, selama 40 tahun terakhir aku mendoakan Asy Syafi’i.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Ash Syafi’i, 1/54)

Imam Yahya bin Said Al Qaththan Rahimahullah berkata:

Saya berdoa kepada Tuhan untuk Al-Syafi’i, dan saya memilih dia untuknya

“Saya berdoa kepada Allah untuk Asy Syafi’i, saya berdoa khusus untuknya.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Ash Syafi’i, 2/243)

Semua contoh ini adalah doa serupa yang disusun oleh orang selain Nabi ﷺ dan bukan dari Al-Qur’an. Tidak ada satu pun ulama yang mengingkarinya, dan ini menunjukkan kemampuannya.

Syekh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:

Apapun makna doa yang tidak disebutkan itu benar, maka diperbolehkan untuk berdoa, berdasarkan keumuman sabda Nabi Muhammad SAW: Hendaklah masing-masing dari kalian memilih doa yang paling disukainya, dan hendaklah ia memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Al-Nasa’i, dan pengucapannya adalah miliknya

Doa yang bersifat ghairul ma’tsur (bukan ma’tsur) namun maknanya shahih dapat digunakan untuk berdoa dengannya, hal ini berdasarkan keumuman hadis Nabi ﷺ: “Maka hendaklah salah seorang di antara kamu memilih doa yang menarik hatinya dan berdoa kepada Allah dengan doa itu.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, dan inilah lafal An Nasa’i).

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 25798)

Semua itu telah terbukti dalam sunnah, perilaku para sahabat, dan kaum salaf dapat menyusun dzikir dan doanya sendiri, seperti doa Rabithah.

Begitulah bolehnya shalat dengan pengaturan sendiri, asalkan isinya tidak melanggar syariat dan tidak dianggap sunnah Nabi ketika memakainya.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Admin Madrasatuna

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch